Puskesmas 081233xxxx
Kantor KUA 081 233 xxxxx
Kantor Kelurahan 081233 xxxxx
Polsek 081333xxxxx
Kamis, 16 Apr 2026
Minggu, 21 Mei 2017 Kat : Berita Desa

Profil Desa Wonotirto

Secara geografis Desa Wonotirto  terletak pada posisi 8°13’42.0” Lintang Selatan dan 112°09’55.0” Bujur Timur. Topografi  desa ini adalah berupa dataran tinggi dengan ketinggian yaitu sekitar ± 775 – 980 m  di atas permukaan air laut. Letak Desa  Wonotirto berada diantara 3 Desa yang juga masih termasuk dalam wilayah Kecamatan Wonotirto dan Kecamatan Sutojayan Kabupaten Blitar . Adapun batas desa tersebut adalah :

6 menit baca
Dilihat : 980x

  1. Sebelah Barat berbatasan dengan: Desa Sumberboto Wonotirto
  2. Sebelah Timur berbatasan dengan: Desa Ngeni Wonotirto.
  3. Sebelah Selatan berbatasan dengan: Desa Gununggede Wonotirto
  4. Sebelah Utara berbatasan dengan: Desa Pandanarum Kec.Sutojayan

Lokasi Desa

  1. Jarak desa keibu kota Kecamatan = 2 Km
  2. Waktu tempuh ke Kecamatan = 10  Menit
  3. Jarak desake ibu kota Kabupaten =   25  Km
  4. Waktu tempuhke kabupaten = 60  Menit
  5. Ketersediaan angkutan umum =   tersedia setiap hari tapi Terbatas

 

 Kondisi Fisik Desa

Desa Wonotirto merupakan wilayah yang terdiri dari pemukiman penduduk , tanah tegalan , perkebunan rakyat ,  lahan persawahan dengan  luas wilayah desa 1.200 Ha. Dimana seluas ± 300 Ha adalah pemukiman penduduk dan sisanya adalah lahan kering & areal persawahan.  Iklim Desa Wonotirto  berdasarkan data BPS kabupaten Blitar tahun 2020, selama tahun 2020 curah hujan di Desa Wonotirto  rata-rata mencapai 2.450 mm. Curah hujan terbanyak terjadi pada bulan Desember hingga mencapai 505,04 mm yang merupakan curah hujan tertinggi.

Kesehatan

Masalah pelayanan kesehatan adalah hak setiap warga masyarakat dan merupakan hal yang penting bagi peningkatan kualitas masyarakat kedepan. Masyarakat yang produktif harus didukung oleh kondisi kesehatan. Salah satu cara untuk mengukur tingkat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari banyaknya masyarakat yang terserang penyakit. Dari data yang ada menunjukkan adanya jumlah masyarakat yang terserang penyakit relatif tinggi. Adapun penyakit yang sering diderita antara lain infeksi pernapasan akut bagian atas, malaria, penyakit sistem otot dan jaringan pengikat. Data tersebut menunjukkan bahwa gangguan kesehatan yang sering dialami penduduk adalah penyakit yang bersifat cukup berat dan memiliki durasi lama bagi kesembuhannya, yang diantaranya disebabkan perubahan cuaca serta kondisi lingkungan yang kurang sehat. Ini tentu mengurangi daya produktifitas masyarakat  Desa Wonotirto secara umum.

Sedangkan data orang cacat mental dan fisik juga cukup tinggi jumlahnya dengan total 28 Orang. Tercatat Cacat Tubuh berjumlah 5 Orang, Cacat Mental 20 Orang dan Tuna Netra 3 orang.

Hal yang perlu juga dipaparkan di sini adalah terkait keikut sertaan masyarakat dalam KB. Terkait hal ini peserta KB aktif di Desa Wonotirto  berjumlah 1.130 pasangan usia subur dari  jumlah  Wanita Usia Subur (WUS) sebanyak 1.419 orang. Sedangkan jumlah bayi yang diimunisasikan dengan Polio dan DPT-1 berjumlah 0 bayi. Tingkat partisipasi demikian ini relatif tinggi walaupun masih bisa dimaksimalkan mengingat cukup tersedianya fasilitas kesehatan berupa sebuah Puskesmas, dan Polindes di Desa Wonotirto  Maka wajar jika ketersediaan fasilitas kesehatan yang relatif lengkap ini berdampak pada kualitas kelahiran bagi bayi lahir.

Hal yang perlu juga dipaparkan di sini adalah kualitas balita. Dalam hal ini, dari jumlah 330 balita di tahun ini, tidak terdapat balita bergizi buruk semua terkategori sedang dan baik. Hal inilah kiranya yang perlu ditingkatkan perhatiannya agar kualitas balita Desa Wonotirto  ke depan lebih baik.

 

 Keadaan Sosial

Dengan adanya perubahan dinamika politik dan sistem politik di Indonesia yang lebih demokratis, memberikan pengaruh kepada masyarakat untuk menerapkan suatu mekanisme politik yang dipandang lebih demokratis. Dalam konteks politik lokal Desa Wonotirto , hal ini tergambar dalam pemilihan kepala desa dan pemilihan-pemilihan lain (pilleg, pilpres, pemillukada, dan pimilugub) yang juga melibatkan warga masyarakat desa secara umum.

Khusus untuk pemilihan Kepala Desa Wonotirto sebagaimana tradisi kepala desa di Jawa, biasanya para peserta (kandidat) nya adalah mereka yang secara trah memiliki hubungan dengan elit kepala desa yang lama. Hal ini tidak terlepas dari anggapan masyarakat banyak di desa-desa bahwa jabatan kepala desa adalah jabatan garis tangan keluarga-keluarga tersebut. Fenomena inilah yang biasa disebut pulung –dalam tradisi jawa- bagi keluarga-keluarga tersebut.

Jabatan kepala desa merupakan jabatan yang tidak serta merta dapat diwariskan kepada anak cucu. Mereka dipilh karena kecerdasan, etos kerja, kejujuran dan kedekatannya dengan warga desa. Kepala desa bisa diganti sebelum masa jabatannya habis, jika ia melanggar peraturan maupun norma-norma yang berlaku. Begitu pula ia bisa diganti jika ia berhalangan tetap.

Karena demikian, maka setiap orang yang memiliki dan memenuhi syarat-syarat yang sudah ditentukan dalam perundangan dan peraturan yang berlaku, bisa mengajukan diri untuk mendaftar menjadi kandidat kepala desa. Fenomena ini juga terjadi pada pemilihan Kepala Desa pada tahun 2019. Pada pilihan kepala desa ini partisipasi masyarakat sangat tinggi, yakni hampir 95%. Tercatat ada dua kandidat kepala desa pada waktu itu yang mengikuti pemilihan kepala desa. Pilihan kepala Desa bagi warga masyarakat Desa Wonotirto seperti acara perayaan desa.

Pada bulan April 2019 ini masyarakat juga dilibatkan dalam pemilihan umum Lesgislatif, Presiden dan Wakil Presiden secara langsung. Walaupun tingkat partisipasinya lebih rendah dari pada pilihan kepala Desa, namun hampir 65% daftar pemilih tetap, memberikan hak pilihnya. Ini adalah proggres demokrasi yang cukup signifikan di Desa Wonotirto

Setelah proses-proses politik selesai, situasi desa kembali berjalan normal. Hiruk pikuk warga dalam pesta demokrasi desa berakhir dengan kembalinya kehidupan sebagaimana awal mulanya. Masyarakat tidak terus menerus terjebak dalam sekat-sekat kelompok pilihannya. Hal ini ditandai dengan kehidupan yang penuh tolong menolong maupun gotong royong.

Walaupun pola kepemimpinan ada di Kepala Desa namun mekanisme pengambilan keputusan selalu ada pelibatan masyarakat baik lewat lembaga resmi Desa seperti Badan Perwakilan Desa maupun lewat masyarakat langsung. Dengan demikian terlihat bahwa pola kepemimpinan di Wilayah Desa Wonotirto mengedepankan pola kepemimpinan yang demokratis.

Berdasarkan deskripsi beberapa fakta di atas, dapat dipahami bahwa Desa Wonotirto mempunyai dinamika politik lokal yang bagus. Hal ini terlihat baik dari segi pola kepemimpinan, mekanisme pemilihan kepemimpinan, sampai dengan partisipasi masyarakat dalam menerapkan sistem politik demokratis ke dalam kehidupan politik lokal. Tetapi terhadap minat politik daerah dan nasional terlihat masih kurang antusias. Hal ini dapat dimengerti dikarenakan dinamika politik nasional dalam kehidupan keseharian masyarakat Desa Wonotirto kurang mempunyai greget, terutama yang berkaitan dengan permasalahan, kebutuhan dan kepentingan masyarakat secara langsung.

Berkaitan dengan letaknya yang berada diperbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah suasana budaya masyarakat Jawa sangat terasa di Desa Wonotirto Dalam hal kegiatan agama Islam misalnya, suasananya sangat dipengaruhi oleh aspek budaya dan sosial Jawa. Hal ini tergambar dari dipakainya kalender Jawa/ Islam, masih adanya budaya nyadran, slametan, tahlilan, mithoni, dan lainnya, yang semuanya merefleksikan sisi-sisi akulturasi budaya Islam dan Jawa.

Dengan semakin terbukanya masyarakat terhadap arus informasi, hal-hal lama ini mulai mendapat respon dan tafsir balik dari masyarakat. Hal ini menandai babak baru dinamika sosial dan budaya, sekaligus tantangan baru bersama masyarakat Desa Wonotirto Dalam rangka merespon tradisi lama ini telah mewabah dan menjamur kelembagaan sosial, politik, agama, dan budaya di Desa Wonotirto Tentunya hal ini membutuhkan kearifan tersendiri, sebab walaupun secara budaya berlembaga dan berorganisasi adalah baik tetapi secara sosiologis akan beresiko menghadirkan kerawanan dan konflik sosial.

Dalam catatan sejarah, selama ini belum pernah terjadi bencana alam dan sosial yang cukup berarti di Desa Wonotirto Isu-isu terkait tema ini, seperti kemiskinan dan bencana alam, tidak sampai pada titik kronis yang membahayakan masyarakat dan sosial.

 

 

Berita Terkait...